{"id":1073,"date":"2023-03-06T23:59:00","date_gmt":"2023-03-06T16:59:00","guid":{"rendered":"https:\/\/contenthub.markplusinstitute.com\/?p=1073"},"modified":"2026-03-17T16:03:24","modified_gmt":"2026-03-17T09:03:24","slug":"menciptakan-value-bagi-konsumen","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/markplusinstitute.com\/explore\/menciptakan-value-bagi-konsumen\/","title":{"rendered":"Menciptakan Value Bagi Konsumen"},"content":{"rendered":"\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Bagaimana konsep&nbsp;<em>value?<\/em><\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Value&nbsp;<\/em>yang terdiri dari&nbsp;<em>brand, service,&nbsp;<\/em>dan<em>&nbsp;process&nbsp;<\/em>merupakan suatu nilai yang diberikan di dalam produk sebagai pembeda dengan kompetitornya.&nbsp;<em>Value&nbsp;<\/em>merupakan perbandingan antara apa yang didapatkan oleh pelanggan dengan apa yang harus pelanggan berikan atau keluarkan. Semakin besar manfaat yang didapat pelanggan dan semakin kecil usaha yang harus mereka berikan, maka semakin besar&nbsp;<em>value&nbsp;<\/em>yang akan dirasakan.&nbsp;<em>Value&nbsp;<\/em>adalah tentang mendapatkan&nbsp;<em>heart-share.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Meningkatkan manfaat yang diterima pelanggan dapat dilakukan dengan dua cara, yakni cara fungsional dan emosional. Peningkatan manfaat dari segi fungsional misalnya melalui fitur pada produk, variasi produk, dan juga kualitas layanan. Sementara itu, dari segi emosional misalnya dapat dirasakan dari rasa aman, kemudahan, jaminan, atau hal lainnya yang dapat mengurangi kekhawatiran. Manfaat yang dirasakan pelanggan baik secara fungsional ataupun emosional kemudian dibandingkan dengan yang mereka keluarkan, bisa berbentuk materi (harga) atau tenaga. Untuk meningkatkan&nbsp;<em>value&nbsp;<\/em>bagi pelanggan, apa yang diperoleh pelanggan harus lebih tinggi atau setidaknya seimbang dengan apa yang mereka keluarkan. Perusahaan harus bisa memperkecil usaha pelanggan dalam menggunakan produk atau layanan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong><em>Brand: Value Indicator<\/em><\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Brand\u00a0<\/em>merupakan penciptaan\u00a0value\u00a0melalui\u00a0asset\u00a0yang dimiliki perusahaan. Indikator kekuatan sebuah\u00a0brand\u00a0di pasar dapat dibandingkan melalui pesaingnya. Perusahaan harus tahu, pesan atau informasi seperti apa yang ingin mereka komunikasikan mengenai\u00a0brand\u00a0nya? Hal itu dapat dijawab dengan memperhatikan elemen-elemen\u00a0brand.\u00a0Elemen yang pertama adalah nama. Perusahaan dapat menentukan nama singkat yang representatif, sehingga mudah diingat, misalnya \u201cMcDonald&#8221; yang kemudian biasa disingkat sebagai \u201cMcD&#8221;.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Elemen yang kedua adalah slogan yang merupakan frasa singkat mengenai informasi perusahaan. Contohnya adalah Nike dengan&nbsp;well-known&nbsp;slogan nya, \u201cJust Do It&#8221;. Kemudian,&nbsp;brand&nbsp;juga dapat direpresentasikan melalui logonya. Keempat, adalah karakter atau model fiktif yang representative. Misalnya Bank BRI yang menciptakan karakter \u201cSabrina&#8221; yang merupakan singkatan dari&nbsp;Smart BRI New Assistant, sebuah asisten virtual yang dapat melayani kebutuhan nasabahnya. Yang terakhir adalah&nbsp;packaging. Packaging&nbsp;dapat memberikan kesan kepada pelanggan saat produk itu sampai di tangan mereka. Rolex dengan&nbsp;packaging box&nbsp;untuk produk jam tangannya dapat memberikan kesan mewah dan ekslusif.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selain itu, perusahaan juga dapat menilai&nbsp;<em>brand equity&nbsp;<\/em>yang terdiri dari lima elemen, yaitu&nbsp;<em>brand awareness, brand association, perceived quality, brand loyalty,&nbsp;<\/em>dan&nbsp;<em>other brand assets.<\/em><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><em>Brand awareness&nbsp;<\/em>merupakan indikator untuk mengukur seberapa baik sebuah&nbsp;<em>brand&nbsp;<\/em>atau produk perusahaan mampu dikenal atau diingat oleh pelanggan. Dimulai dari&nbsp;<em>brand awareness&nbsp;<\/em>yang rendah hingga yang tinggi tingkatannya adalah:&nbsp;<em>unaware of brand, brand recognition, brand recall, brand spontaneous,&nbsp;<\/em>dan&nbsp;<em>top of mind.<\/em><\/li>\n\n\n\n<li>Lalu,&nbsp;<em>brand association&nbsp;<\/em>adalah hal-hal positif yang dapat dihubungkan dengan sebuah&nbsp;<em>brand,&nbsp;<\/em>sehingga&nbsp;<em>brand&nbsp;<\/em>tersebut dapat melekat di benak konsumen. Asosiasi nya dapat berupa negara (area geografis), gaya hidup, selebriti, harga, pengguna (<em>user<\/em>), hingga kelas produk.<\/li>\n\n\n\n<li>Kemudian ada&nbsp;<em>perceived quality&nbsp;<\/em>yang merupakan persepsi konsumen tentang kualitas sebuah produk dan&nbsp;<em>brand.&nbsp;<\/em>Kualitas produk atau layanan dapat dinilai dari berbagai aspek sebagai berikut: kemudahan untuk memperbaiki (<em>serviceability<\/em>), konsistensi kinerja (<em>reliability<\/em>), elemen sekunder (<em>features<\/em>), karakterisrik operasional utama (<em>performance<\/em>), ketiadaan cacat (<em>conformance with specification<\/em>), nilai ekonomis (<em>durability<\/em>), dan kualitas tampilan akhir (<em>fit and finish<\/em>).<\/li>\n\n\n\n<li>Selanjutnya, elemen&nbsp;<em>brand equity&nbsp;<\/em>yang keempat adalah&nbsp;<em>brand loyalty&nbsp;<\/em>yang bertujuan untuk mengukur kekuatan&nbsp;<em>brand&nbsp;<\/em>berdasarkan keterikatan pelanggan terhadap&nbsp;<em>brand&nbsp;<\/em>atau produk tertentu. Pelanggan-pelanggan dari sebuah&nbsp;<em>brand&nbsp;<\/em>dapat dikelompokkan menjadi lima. Yang pertama adalah&nbsp;<em>switchers&nbsp;<\/em>atau mereka yang sensitif terhadap harga sehingga mudah beralih.&nbsp;Kemudian ada&nbsp;<em>habitual buyer&nbsp;<\/em>yang merasa&nbsp;<em>satisfied,&nbsp;<\/em>namun beberapa kali&nbsp;<em>unsatisfied&nbsp;<\/em>karena mereka sensitif dengan&nbsp;<em>benefit&nbsp;<\/em>baru yang mungkin ditawarkan kompetitor. Yang ketiga,&nbsp;<em>satisfied buyer with switching cost&nbsp;<\/em>dimana mereka harus merogoh kocek untuk beralih ke&nbsp;<em>brand&nbsp;<\/em>lain, mereka sensitif dengan&nbsp;<em>switching cost&nbsp;<\/em>yang lebih tinggi. Keempat adalah pelanggan yang&nbsp;<em>likes the brand.&nbsp;<\/em>Pelanggan dalam kategori ini sangat menyukai&nbsp;<em>brand&nbsp;<\/em>yang spesifik karena mereka memiliki&nbsp;<em>emotional attachment&nbsp;<\/em>dengan&nbsp;<em>brand&nbsp;<\/em>yang bersangkutan. Yang teratas adalah&nbsp;<em>commited buyer<\/em>dimana mereka merasa bangga untuk menggunakan atau memakai produk dari&nbsp;<em>brand&nbsp;<\/em>tertentu, bahkan terkadang mereka mengadvokasikan&nbsp;<em>brand&nbsp;<\/em>tersebut kepada orang lain.<\/li>\n\n\n\n<li>Sementara itu, untuk&nbsp;<em>brand assets&nbsp;<\/em>lainnya adalah segala sesuatu yang mendukung dan meningkatkan&nbsp;<em>brand equity,&nbsp;<\/em>misalnya&nbsp;<em>competitive advantage, patent, trademark,&nbsp;<\/em>ataupun&nbsp;<em>distribution channel.<\/em><\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong><em>Service: Value Enhancer<\/em><\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Service&nbsp;<\/em>adalah paradigma perusahaan untuk menciptakan sebuah value abadi bagi pelanggan melalui produk. Terdapat lima dimensi kualitas layanan atau&nbsp;<em>service excellence.&nbsp;<\/em>Kelima dimensi tersebut yakni:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><em>Reliability<\/em>&nbsp;(Kehandalan): Kemampuan untuk memberikan layanan sesuai seperti yang telah dijanjikan serta akurat (tanpa kesalahan). Aspek yang menunjukkan kehandalan perusahaan dapat ditunjukkan dengan menepati janji dalam penyampaian layanan sesuai&nbsp;<em>claim<\/em>&nbsp;yang diberikan, menyelesaikan masalah yang dihadapi pelanggan dengan fokus, dan memberikan layanan dengan cermat agar tidak terjadi kesalahan.<\/li>\n\n\n\n<li><em>Assurance&nbsp;<\/em>(Kepercayaan): Pengetahuan (<em>knowledge<\/em>) dan keramahan dari para pegawai untuk dapat menimbulkan rasa percaya (<em>trust<\/em>) dan yakin (<em>confidence<\/em>) pada customer. Aspek yang menimbulkan rasa percaya kepada perusahaan bisa dilakukan dengan memberi rasa aman dalam interkasi customer dengan perusahaan, menghormati&nbsp;<em>customer<\/em>, memberi jawaban yang dibutuhkan&nbsp;<em>customer<\/em>, dan memiliki jaminan dari pihak lain yang dapat menumbuhkan rasa percaya bagi&nbsp;<em>customer<\/em>&nbsp;(seperti&nbsp;<em>awards<\/em>&nbsp;atau sertifikat).<\/li>\n\n\n\n<li><em>Tangibles&nbsp;<\/em>(Tampilan): Fasilitas fisik, peralatan, dan penampilan dari para personil layanan. Perusahaan menampilkan kesan tentang layanan yang dimiliki dengan memiliki peralatan yang&nbsp;<em>modern<\/em>, fasilitas fisik perusahaan terlihat menarik, pegawai yang berpenampilan rapi, dan menyediakan keperluan yang berkaitan dengan layanan perusahaan (seperti brosur atau formulir) agar terlihat menarik.<\/li>\n\n\n\n<li><em>Empathy&nbsp;<\/em>(Empati): Sejauh mana tingkat pemahaman atau empati serta perhatian secara individual yang diberikan oleh perusahaan kepada para customer. Bentuk empati misalnya dengan memiliki jam operasional yang nyaman bagi pelanggan, karyawan menunjukkan keramahan yang tulus kepada pelanggan, dan karyawan perusahaan dapat memahami kebutuhan pelanggan secara spesifik.<\/li>\n\n\n\n<li><em>Responsiveness&nbsp;<\/em>(Ketanggapan): Kemauan untuk menolong para pelanggan dan menyediakan suatu layanan dengan segera\/tepat waktu. Contoh-contohnya adalah dengan memberikan respon yang cepat atas kebutuhan pelanggan, menunjukkan ketulusan dalam memberikan bantuan kepada pelanggan, dan selalu ada untuk melayani pelanggan.<\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"Bagaimana konsep&nbsp;value? Value&nbsp;yang terdiri dari&nbsp;brand, service,&nbsp;dan&nbsp;process&nbsp;merupakan suatu nilai yang diberikan di dalam produk sebagai pembeda dengan kompetitornya.&nbsp;Value&nbsp;merupakan perbandingan&hellip;","protected":false},"author":3,"featured_media":6588,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"iawp_total_views":809,"csco_singular_sidebar":"","csco_page_header_type":"","csco_page_load_nextpost":"","footnotes":""},"categories":[165,162],"tags":[62,66,49,65],"class_list":["post-1073","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-strategy-and-planning","category-sales-management","tag-9-elemen-pemasaran","tag-brand","tag-hermawan-kartajaya","tag-value","cs-entry"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/markplusinstitute.com\/explore\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1073","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/markplusinstitute.com\/explore\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/markplusinstitute.com\/explore\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/markplusinstitute.com\/explore\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/markplusinstitute.com\/explore\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1073"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/markplusinstitute.com\/explore\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1073\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/markplusinstitute.com\/explore\/wp-json\/wp\/v2\/media\/6588"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/markplusinstitute.com\/explore\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1073"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/markplusinstitute.com\/explore\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1073"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/markplusinstitute.com\/explore\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1073"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}