{"id":1375,"date":"2023-03-09T12:43:00","date_gmt":"2023-03-09T05:43:00","guid":{"rendered":"https:\/\/contenthub.markplusinstitute.com\/?p=1375"},"modified":"2026-03-17T15:18:31","modified_gmt":"2026-03-17T08:18:31","slug":"taktik-pemasaran-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/markplusinstitute.com\/explore\/taktik-pemasaran-2\/","title":{"rendered":"Taktik Pemasaran: The Battle Plan"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam era kompetisi dimana&nbsp;<em>brand&nbsp;<\/em>saling bersaing untuk menjadi&nbsp;<em>market leader,&nbsp;<\/em>perusahaan harus menyusun taktik pemasaran atau&nbsp;<em>the battle plan.&nbsp;<\/em>Dalam berperang, kita membutuhkan peta peperangan yang dapat dibagi menjadi empat opsi strategi, yakni&nbsp;<em>defensive strategy, offensive strategy, flanking strategy,&nbsp;<\/em>dan&nbsp;<em>guerilla strategy.&nbsp;<\/em>Yuk kita pelajari lebih lanjut!<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/blog.markplusinstitute.com\/uploads\/images\/202303\/image_870x_64085f45a3a96.jpg\" alt=\"\"\/><\/figure>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Defensive_Strategy\"><\/span><strong><em>Defensive Strategy<\/em><\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2><div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_82_2 counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/markplusinstitute.com\/explore\/taktik-pemasaran-2\/#Defensive_Strategy\" >Defensive Strategy<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/markplusinstitute.com\/explore\/taktik-pemasaran-2\/#Offensive_Strategy\" >Offensive Strategy<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/markplusinstitute.com\/explore\/taktik-pemasaran-2\/#Flanking_Strategy\" >Flanking Strategy<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/markplusinstitute.com\/explore\/taktik-pemasaran-2\/#Guerilla_Strategy\" >Guerilla Strategy<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Strategi defensif diperuntukkan untuk&nbsp;<em>market leaders&nbsp;<\/em>untuk melanjutkan dominasi pasar. Strategi ini digunakan para&nbsp;<em>market leaders&nbsp;<\/em>untuk mempertahankan keunggulan kompetitif, mengurangi risiko diserang, mengurangi efek serangan, dan memperkuat posisi.&nbsp;<em>Clausewitz<\/em>&nbsp;<em>principles&nbsp;<\/em>beranggapan bahwa strategi ini adalah yang terkuat. Namun, hanyalah&nbsp;<em>market leaders&nbsp;<\/em>yang seharusnya mempertimbangkan bermain defensif karena selain sudah memiliki pangsa pasar, pertahanan terbaik adalah dari puncak gunung.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Strategi terbaiknya adalah dengan \u00c3\u00a2\u00e2\u201a\u00ac\u00c5\u201cmenyerang diri sendiri\u00c3\u00a2\u00e2\u201a\u00ac\u009d.&nbsp;<em>Defender&nbsp;<\/em>memiliki persepsi yang kuat dalam pikiran pelanggan, maka dari itu yang perlu mereka lakukan adalah memperkuat posisinya dengan memperkenalkan produk dan promosi baru yang sudah usang. Kemudian, langkah kompetitor yang kuat harus selalu diblokir. Jika perusahaan gagal untuk mengambil kesempatan untuk mengembangkan inovasi di perusahaan, maka dapat diperbaiki dengan menahan beberapa serangan yang kuat. Serangan ini harus segera di tahan sebelum produk kompetitor menjadi sempurna untuk mempertahankan posisi perusahan di puncak gunung.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Offensive_Strategy\"><\/span><strong><em>Offensive Strategy<\/em><\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Berbeda dengan strategi defensif yang diperuntukkan untuk para&nbsp;<em>market leaders,&nbsp;<\/em>strategi ofensif diperuntukkan bagi pemain pasar yang bertengger di posisi kedua atau tiga. Strategi ini digunakan untuk meningkatkan&nbsp;<em>market share&nbsp;<\/em>dengan menyerang pesaing secara langsung oleh perusahaan yang memiliki sumber daya unggul daripada pesaingnya. Hal utama yang perlu dipertimbangkan ialah kekuatan posisi si&nbsp;<em>market leader.&nbsp;<\/em>Perusahan yang berada di posisi kedua dang ketiga tidak hanya harus fokus pada kekuatan mereka sendiri, melainkan memperhatikan pula kekuatan dan kelemahan pemimpin pasar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebelum \u00c3\u00a2\u00e2\u201a\u00ac\u00c5\u201cmengambil\u00c3\u00a2\u00e2\u201a\u00ac\u009d&nbsp;<em>market share,&nbsp;<\/em>cobalah untuk menurunkan posisi si&nbsp;<em>market leader&nbsp;<\/em>terlebih dahulu. Setelah menemukan kelemahan dan kekuatan pemimpin pasar, coba serang titik lemah mereka. Tidak semua kelemahannya mudah untuk diserang. Pertarungan harga bisa merugikan perusahaan, jika&nbsp;<em>competitor<\/em>&nbsp;mampu menurunkan marginnya. Kelemahan terbaik adalah kelemahan yang diluar dari kekuatan, misalnya mengikis tingkat kualitas atau pengembangan produk yang lambat. Terakhir, luncurkan serangan yang kecil tapi fokus. Serangan ofensif yang diluncurkan ke lini depan lebih kuat dan efektif daripada menyerang semua lini. Ketika sudah mendapatkan pasar tersebut, lindungi lalu serang bagian yang lain.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Flanking_Strategy\"><\/span><strong><em>Flanking Strategy<\/em><\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Flanking strategy<\/em>&nbsp;adalah taktik pemasaran yang digunakan para pemain baru untuk memastikan kelangsungan yang menguntungkan. Cara yang digunakan ialah dengan mengeksploitasi kelemahan lawan dengan beroperasi di area yang belum dimaksimalkan oleh pesaing. Strategi&nbsp;<em>flanking&nbsp;<\/em>yang baik yaitu memaksimalkan area yang tidak penting bagi pesaing karena bagian itulah yang paling tidak disangka dan dilindungi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kejutan rencana taktis harus menjadi elemen penting dari rencana tersebut. Serangan flanking yang sukses adalah rencana yang tidak terduga atau mengejutkan. Semakin besar kejutannya, semakin banyak waktu dibutuhkan pemimpin untuk bereaksi dan berusaha menutupi. Perlu diingat bahwa pertahanan sama pentingnya dengan serangan itu sendiri. Beberapa perusahaan kerap berhenti setelah mencapai tujuan, mereka memindahkan alokasi ke tempat lain. Ini adalah kesalahan, karena sebaiknya ketika Anda menyerang di satu sisi, teruslah menyerang dan pertahankan apa yang telah Anda ambil.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Guerilla_Strategy\"><\/span><strong><em>Guerilla Strategy<\/em><\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Guerilla strategy&nbsp;<\/em>atau bisa disebut dengan strategi gerilya diperuntukkan bagi para pemain kecil untuk bertahan dengan segala cara. Karena umumnya, para penantang kecil memiliki sumber daya terbatas untuk menyerang, mundur, dan bersembunyi. Pertama-tama, temukan sebuah segmen di pasar yang kecil dan cukup untuk dilindungi. Target pasar harus cukup kecil dan sulit untuk dimasuki oleh pemimpin untuk diserang. Karena perusahaan hanya memiliki beberapa sumber daya, ini harus digunakan untuk menyerang dan bukan untuk bertahan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, tidak peduli berapa sukses perusahaan Anda, jangan berperilaku seperti pemimpin pasar dan merasa sudah diatas angin, karena kepuasan adalah musuh terburuk bagi gerilya. Gerilyawan harus bersikap tidak konvensional dan siap menjadi kreatif dan inovatif di setiap saat. Tetapi, mereka juga harus bersiap untuk mundur dan membuat pertahanan. Perusahaan harus terus hidup untuk berperang pada hari berikutnya. Jangan ragu untuk meninggalkan posisi atau produk jika persaingan mulai merugikan perusahaan Anda.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"Dalam era kompetisi dimana&nbsp;brand&nbsp;saling bersaing untuk menjadi&nbsp;market leader,&nbsp;perusahaan harus menyusun taktik pemasaran atau&nbsp;the battle plan.&nbsp;Dalam berperang, kita membutuhkan&hellip;","protected":false},"author":3,"featured_media":1377,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"iawp_total_views":503,"csco_singular_sidebar":"","csco_page_header_type":"","csco_page_load_nextpost":"","footnotes":""},"categories":[548],"tags":[64,70,63],"class_list":["post-1375","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-key-element-of-marketing","tag-marketing","tag-strategi-marketing","tag-taktik-pemasaran","cs-entry"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/markplusinstitute.com\/explore\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1375","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/markplusinstitute.com\/explore\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/markplusinstitute.com\/explore\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/markplusinstitute.com\/explore\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/markplusinstitute.com\/explore\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1375"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/markplusinstitute.com\/explore\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1375\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/markplusinstitute.com\/explore\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1377"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/markplusinstitute.com\/explore\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1375"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/markplusinstitute.com\/explore\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1375"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/markplusinstitute.com\/explore\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1375"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}