Media sosial sudah menjadi bagian dari keseharian konsumen. Bagi bisnis, kondisi ini membuka peluang untuk hadir lebih dekat dengan target pasar, membangun percakapan, dan memperkenalkan produk tanpa harus selalu mengandalkan komunikasi satu arah. Di sinilah, social media marketing memainkan peran penting.
Meski begitu, aktif di media sosial belum tentu berarti sebuah bisnis sudah menjalankan social media marketing dengan baik. Ada brand yang rutin mengunggah konten, namun engagement tidak berkembang. Ada pula yang memiliki banyak followers, tetapi tidak melihat dampak yang berarti terhadap bisnis. Masalahnya sering kali bukan pada seberapa sering konten dibuat, melainkan pada strategi di baliknya.
Lalu, seperti apa strategi social media marketing yang dapat memberikan dampak lebih nyata bagi bisnis? Simak penjelasannya berikut ini.
Mulai dari Tujuan, Bukan Sekadar Posting
Sebelum menentukan konten yang akan diunggah, bisnis perlu tahu terlebih dahulu apa yang ingin dicapai melalui media sosial. Tujuan yang berbeda akan membutuhkan pendekatan yang berbeda pula. Brand yang sedang memperkenalkan produk baru, misalnya, tentu memiliki kebutuhan yang berbeda dengan bisnis yang ingin meningkatkan penjualan atau mempertahankan pelanggan.
Tujuan tersebut juga membantu bisnis menentukan ukuran keberhasilannya. Likes dan followers memang mudah dilihat, tetapi belum tentu menunjukkan apakah media sosial benar-benar memberikan kontribusi terhadap bisnis.
Beberapa tujuan yang dapat menjadi dasar strategi, antara lain:
- Meningkatkan brand awareness.
- Membangun engagement dengan target audiens.
- Mengarahkan traffic ke website atau kanal penjualan.
- Menghasilkan leads.
- Mendorong conversion dan penjualan.
- Mempertahankan hubungan dengan pelanggan.
Setelah tujuan ditetapkan, barulah aktivitas media sosial dapat diarahkan untuk mendukung target tersebut. Dengan cara ini, setiap konten memiliki alasan untuk dibuat, bukan sekadar memenuhi jadwal posting.
Kenali Audiens sebelum Menentukan Konten
Konten yang bagus belum tentu relevan bagi semua orang. Apa yang dianggap menarik oleh brand bisa saja tidak memiliki arti bagi target audiens. Itulah sebabnya memahami konsumen menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari social media marketing.
Brand perlu melihat lebih jauh dari sekadar usia atau lokasi audiens. Apa yang mereka cari? Masalah apa yang sedang mereka hadapi? Bagaimana mereka berbicara tentang masalah tersebut? Platform mana yang paling sering mereka gunakan? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini dapat membantu brand menentukan cara berkomunikasi yang lebih tepat.
Hal yang bisa digali dari audiens, misalnya:
- Kebutuhan dan masalah yang mereka hadapi.
- Topik yang sering mereka cari atau bicarakan.
- Format konten yang paling mereka respons.
- Platform yang paling sering digunakan.
- Bahasa dan gaya komunikasi yang terasa natural bagi mereka.
Komentar, pesan dari pelanggan, insight media sosial, hingga social listening dapat menjadi sumber informasi yang berguna. Semakin baik brand memahami audiensnya, semakin besar peluang konten terasa relevan.
Fokus pada Platform yang Memang Digunakan Audiens
Tidak ada kewajiban bagi bisnis untuk aktif di semua platform. Memiliki akun Instagram, TikTok, LinkedIn, X, dan berbagai platform lain sekaligus justru dapat menjadi masalah jika tim tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk mengelolanya.
Yang lebih penting adalah menemukan tempat di mana target audiens benar-benar berada. Instagram dapat menjadi pilihan untuk membangun engagement dan memperkuat identitas visual, sedangkan LinkedIn lebih relevan untuk komunikasi profesional dan thought leadership. TikTok juga dapat dimanfaatkan untuk menjangkau audiens melalui konten video yang lebih dinamis.
Daripada menyebarkan tenaga ke terlalu banyak kanal, bisnis dapat:
- Memilih satu atau dua platform utama terlebih dahulu.
- Menyesuaikan format dengan karakter masing-masing platform.
- Melihat platform yang paling banyak digunakan target audiens.
- Mengevaluasi performa sebelum memperluas ke platform lain.
Buat Konten yang Memberikan Alasan untuk Diikuti
Setelah mengetahui siapa audiens dan di mana mereka berada, tantangan berikutnya adalah menentukan apa yang ingin dibicarakan. Di sinilah content plan dibutuhkan.
Media sosial bukan katalog produk yang hanya dibuka ketika brand ingin berjualan. Audiens juga datang untuk mencari informasi, mendapatkan inspirasi, menemukan hiburan, atau sekadar mengikuti percakapan yang sedang berlangsung. Jika seluruh isi akun hanya berupa promosi, alasan audiens untuk terus mengikuti brand menjadi semakin sedikit.
Konten dapat dikembangkan melalui beberapa pendekatan berikut:
- Edukasi yang membantu audiens menyelesaikan masalah.
- Informasi yang relevan dengan kebutuhan mereka.
- Product highlight yang menjelaskan manfaat, bukan sekadar fitur.
- Testimonial untuk memperkuat kepercayaan.
- Behind-the-scenes untuk memperlihatkan sisi manusiawi brand.
- Promosi yang ditempatkan secara proporsional.
Content pillar dapat membantu menjaga variasi tersebut, sedangkan content calendar membuat proses produksi lebih terarah. Keduanya membuat brand tidak perlu terus-menerus mencari ide dari nol.
Jangan Hanya Bicara, Dengarkan Juga Audiens
Ada satu hal yang sering terlupakan ketika membahas social media marketing: media sosial adalah ruang percakapan. Konten memang penting, tetapi interaksi yang terjadi setelah konten dipublikasikan juga memiliki nilai.
Komentar atau pertanyaan dari audiens bukan sekadar angka dalam laporan performa. Di dalamnya bisa terdapat keluhan, kebutuhan baru, bahkan ide konten berikutnya. Respons brand terhadap percakapan tersebut juga dapat memengaruhi bagaimana audiens melihat brand.
Karena itu, pengelolaan media sosial perlu memberikan ruang untuk:
- Merespons komentar dan pertanyaan.
- Mengikuti percakapan yang relevan dengan brand.
- Mengidentifikasi feedback pelanggan.
- Mengembangkan topik yang mendapat respons positif.
- Membangun percakapan yang lebih bermakna dengan audiens.
Konsistensi tetap penting, tetapi tidak harus berarti posting sebanyak mungkin. Jadwal yang realistis dan mampu dipertahankan jauh lebih masuk akal daripada memaksakan frekuensi tinggi yang akhirnya membuat kualitas konten menurun.
Ukur Hasilnya dan Perbaiki Strateginya
Social media marketing tidak selesai ketika konten sudah tayang. Justru, setelah itulah bisnis mendapatkan data yang dapat digunakan untuk menentukan langkah berikutnya.
Metrik yang perlu diperhatikan bergantung pada tujuan yang telah ditetapkan. Jika fokusnya awareness, reach bisa menjadi salah satu indikator. Jika ingin melihat kualitas interaksi, engagement lebih relevan. Sementara itu, click-through rate dan conversion rate dapat digunakan ketika media sosial diarahkan untuk menghasilkan tindakan yang lebih dekat dengan penjualan.
Beberapa metrik yang dapat digunakan, antara lain:
- Reach untuk melihat jangkauan konten.
- Engagement untuk melihat respons audiens.
- Click-through rate untuk mengukur ketertarikan terhadap tautan atau CTA.
- Conversion rate untuk melihat tindakan yang dihasilkan.
- Follower growth untuk memantau perkembangan audiens.
Data tersebut sebaiknya tidak berhenti sebagai laporan bulanan. Gunakan hasilnya untuk melihat konten mana yang layak dikembangkan, topik mana yang kurang relevan, dan pendekatan apa yang perlu diubah.
Asah Kompetensi Social Media Marketing melalui CDMS dari MarkPlus Institute
Pada akhirnya, social media marketing bukan hanya soal kemampuan membuat konten yang menarik. Di balik sebuah akun yang dikelola dengan baik, terdapat pemahaman mengenai strategi, konsumen, platform, content planning, hingga analisis data.
Bagi marketer dan profesional yang ingin mengembangkan kemampuan tersebut secara lebih menyeluruh, Certified Digital Marketing Specialist (CDMS) dari MarkPlus Institute bisa menjadi pilihan untuk memperdalam kompetensi digital marketing.
Program ini tak hanya membahas social media strategy, melainkan juga content pillar, TikTok Marketing, Meta Marketing, SEO, email marketing, hingga Google Analytics. Melalui CDMS, peserta dapat memperkuat kemampuan untuk:
- Menyusun strategi digital marketing secara lebih terarah.
- Mengembangkan content pillar dan content strategy.
- Memahami social media strategy dan berbagai platform digital.
- Mengukur performa aktivitas marketing menggunakan data.
- Menghubungkan aktivitas digital dengan tujuan pemasaran bisnis.
Siap mengembangkan kemampuan social media marketing dan digital marketing? Pelajari lebih lanjut program Certified Digital Marketing Specialist (CDMS) di sini atau hubungi tim MarkPlus Institute untuk berkonsultasi lebih lanjut melalui tautan berikut.
Referensi: https://www.forbes.com/advisor/business/social-media-marketing/



