Dalam era bisnis yang semakin kompleks dan dinamis, experiential learning menjadi kunci bagi perusahaan untuk tetap relevan dan kompetitif. Perubahan teknologi, pergeseran pasar, serta kebutuhan pelanggan yang terus berkembang menuntut perusahaan untuk terus berinovasi dan beradaptasi mengikuti perubahan eksternal.
Kemampuan perusahaan dalam berinovasi dan beradaptasi tentu akan bergantung pada sumber daya manusia yang dimiliki, bagaimana kompetensi mereka juga dapat terus berkembang mengikuti kebutuhan dan perkembangan bisnis.
Untuk membantu pengembangan kompetensi dan referensi strategi bisnis yang dibutuhkan perusahaan ke depan, metode pelatihan yang memberikan pengalaman langsung dan perspektif yang beragam tentu menjadi sangat dibutuhkan.

Mendukung pernyataan tersebut, berdasarkan penelitian dari Harvard Business Review, 70% pembelajaran yang efektif terjadi melalui pengalaman langsung. Selain itu, melalui pembelajaran langsung juga dapat memberikan wawasan yang mempengaruhi pola pikir dan perilaku yang berdampak langsung pada bisnis.
Experiential learning yang merupakan pendekatan pembelajaran di mana peserta memperoleh pengetahuan dan keterampilan melalui pembelajaran langsung. Sebuah studi dari McKinsey menyebutkan bahwa Experiential learning dapat meningkatkan retensi informasi hingga 75%.
Metode pembelajaran dalam experiential juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan dari peserta dan perusahaan. Mereka dapat memilih tujuan perusahaan mana yang akan dijadikan referensi atau destinasi kegiatan pembelajaran.
Destinasi kegiatan dapat perusahaan lokal maupun multinasional, dapat dalam satu regional maupun lintas regional. Perusahaan yang ada di negara-negara seperti Singapura, Australia, Jepang, China, dan Amerika merupakan beberapa contoh perusahaan yang dapat menjadi destinasi favorit dalam kegiatan pembelajaran ini.

Sebagai ilustrasi, Ketika sebuah perusahaan lokal Indonesia ingin melakukan pelatihan dan pembelajaran kompetensi terkait etika bisnis dan ingin melakukan benchmarking ke perusahaan di luar negeri, antara berkunjung ke Amerika atau Jepang tentu akan memberikan hasil benchmarking yang berbeda terkait bisnis etik masing-masing negera. Amerika terkenal budaya etik yang lebih bebas, sedangkan di Jepang etika dalam bisnis sangat diperhatikan.
Dalam experiential learning, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mengembangkan keterampilan yang relevan dengan dunia kerja.Melalui aktivitas-aktivitas seperti presentasi, negosiasi, dan pemecahan masalah, peserta akan mengasah kemampuan komunikasi, kepemimpinan, dan berpikir kritis mereka.
Menurut National Training Laboratories, tingkat retensi belajar dari metode ini bisa mencapai hingga 90%. Pendekatan ini memastikan bahwa peserta belajar dengan cara yang interaktif dan menarik, sehingga pengetahuan lebih mudah diserap.
Selain itu, peserta akan melakukan kunjungan ke perusahaan lain untuk mendapatkan wawasan dari perspektif yang baru. Ini membantu mereka melihat bagaimana perusahaan lain mengatasi tantangan dan menciptakan inovasi, yang dapat diterapkan dalam konteks perusahaan mereka sendiri.

Peserta juga akan diberikan tantangan untuk meningkatkan keterampilan pemecahan masalah dan kerja sama tim. Melalui kolaborasi dalam lingkungan yang baru dan menantang, peserta belajar untuk bekerja sama lebih efektif dan mengembangkan solusi kreatif terhadap masalah yang dihadapi.
Dengan pendekatan experiential learning, peserta tidak hanya belajar dari teori, tetapi juga dari pengalaman nyata. Hal ini memungkinkan mereka untuk mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam dan praktis tentang bagaimana menerapkan pengetahuan yang telah mereka peroleh dalam konteks nyata.
Program ini dirancang untuk mempersiapkan peserta menghadapi tantangan bisnis masa depan dengan perspektif baru dan keterampilan yang lebih kuat. Melaksanakan program experiential learning menjadi langkah strategis yang penting bagi perusahaan untuk memastikan bahwa mereka memiliki tenaga kerja yang siap menghadapi perubahan dan mampu mendorong pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan.
Selain itu, dengan belajar dari berbagai perspektif, baik melalui kunjungan ke perusahaan lain maupun interaksi dengan budaya lokal di berbagai negara, karyawan dapat mengembangkan pemahaman yang lebih komprehensif dan mendalam tentang dinamika pasar global saat ini. Hal ini memperkuat fondasi pengetahuan perusahaan dan mempersiapkan karyawan untuk menghadapi tantangan dan peluang bisnis yang kompleks di masa depan.



