BAGAIMANA MENJADI MINDFUL LEADER?

Gen Z dilaporkan lebih mungkin untuk terlibat dalam “quiet quitting” daripada generasi lainnya. Menurut survei yang dilakukan oleh Workplace Intelligence dan HBR Ascend, lebih dari 75% responden Gen Z mengatakan bahwa mereka telah meninggalkan pekerjaan tanpa memberikan pemberitahuan yang tepat, dibandingkan dengan 61% responden dari generasi lainnya.
Tren ini disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kurangnya keamanan kerja, ketidakpuasan terhadap lingkungan kerja, dan kurangnya apresiasi para atasannya terhadap pekerjaan yang dilakukan oleh karyawannya.
Fenomena quiet quitting adalah fenomena dimana individu meninggalkan pekerjaan mereka tanpa memberitahu atasan atau kolega mereka terlebih dahulu. Meskipun tren ini tidak hanya terjadi pada generasi tertentu, namun ada minat yang semakin besar untuk memahami bagaimana hal ini berdampak sebagian besar pada Gen Z.
Mengutip dari Zenger dan Folkman (2022), quiet quitting is about bad bosses, not bad employees. Data tersebut menunjukan bahwa quiet quitting bukan dipicu oleh kesediaan karyawan untuk bekerja lebih kerjas dan memberi kontribusi lebih, melainkan kemampuan leaders dalam membangun dan mengelola hubungannya dengan karyawan.
Dalam model Entrepreneurial Marketing, Quiet Quitting (QQ) adalah kondisi di bawah Productivity and Improvement (PI) dimana Entrepreneurial Marketing merupakan konsep bisnis yang membawa sistem keberlanjutan dalam sebuah organisasi dan menetapkan individu untuk memiliki pola pikir yang agile agar menciptakan kehidupan yang progresif.Dengan kata lain, para pelaku QQ ini bukan hanya tidak kreatif, mereka bahkan tidak memenuhi kriteria untuk bisa dikatakan sebagai pekerja yang produktif.
Figure 1. Quiet Quitting Phenomenon

Ketika seorang karyawan merasa kebutuhan-kebutuhannya tidak terpenuhi, dan pada saat yang sama mereka merasa tidak dapat bersuara, inilah pendorong munculnya perilaku quiet quitting.
Untuk menghindari fenomena tersebut, dibutuhkan nya seorang pemimpin yang dapat mengambil langkah-langkah besar dan memiliki sifat mindful leadership.
Dalam buku Full Catastrophe Living yang dicetuskan oleh Jon Kabat-Zinn. Terdapat tujuh sikap utama yang mencerminkan mindful leaders:
- Non-judging: Dapat memberikan penilaian ataupun reaksi yang netral kepada tim.
- Beginners mind: Bersikap terbuka dan ingin tahu terhadap segala kemungkinan yang mencegahnya untuk terjebak dalam zona nyaman atau keahliannya sendiri.
- Patience: Menggambarkan kebijaksanaan untuk tidak terburu-buru, bahwa beberapa hal terkadang membutuhkan waktunya sendiri untuk terungkap.
- Trust: Menanamkan rasa percaya terhadap diri dan juga kepada anggota tim.
- Be in the present: Bersama diri sendiri di sini dan saat ini, memperhatikan apa yang tengah berlangsung dengan penuh penghayatan.
- Acceptance: Melihat berbagai hal sebagaimana adanya, agar kita dapat mengambil sikap yang tepat dalam kondisi apapun.
- Letting go: Membiarkan pengalaman mengalir apa adanya.
Dibalik sukses nya suatu perusahaan tentunya didukung oleh pemimpin yang dapat berfikir kreatif, inovatif dan profesional dalam menangani semua kendala yang ada di perushaannya. Pemimpin yang dapat mendengar keluhann dan menghargai tim kerja tentunya Ia memiliki kemampuan pola pikir entreprenuer dan bisa menciptakan strategi bisnis yang efektif di berkepanjangan waktu.
Ingin tahu bagaimana cara menjadi seorang mindful leader di dalam dunia bisnis atau korporasi?