Apa yang pertama kali terlintas di benak kalian jika mendengar kata design thinking? Tentu kalian akan bertanya-tanya apa itu design thinking dan bagaimana design thinking process berjalan.
Sebenarnya jika berbicara mengenai design thinking tidak akan pernah ada habisnya, mengingat design thinking merupakan salah satu metode berpikir yang paling umum dan luas jaringannya.
Design thinking menawarkan metodologi yang kuat bagi para pelaku bisnis untuk mengembangkan produk maupun layanan yang berdampak terhadap khalayak.
Dengan menempatkan kebutuhan manusia sebagai sasaran utama, design thinking memastikan bahwa solusi yang dikembangkan dapat diwujudkan melalui teknologi, memiliki kelayakan ekonomi, dan relevan bagi para penggunanya.
Simak artikel ini untuk mempelajari lebih dalam mengenai apa itu design thinking dan bagaimana karakteristik hingga manfaat dari design thinking dapat membawa bisnismu ke arah kesuksesan yang lebih besar.
Apa itu Design Thinking?
Design thinking adalah sebuah pendekatan atau proses kreatif yang digunakan untuk menyelesaikan masalah kompleks dengan fokus utama pada kebutuhan manusia atau pengguna, yang juga dikenal sebagai pendekatan human-centric. Metode ini juga sering disebut sebagai Business of Experience (BX), karena menekankan pada pengalaman pengguna dalam proses inovasi dan pengembangan solusi.
Sederhananya, design thinking adalah sebuah proses yang dilakukan dengan tujuan menciptakan solusi yang inovatif yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Proses ini melibatkan pendekatan strategis dan praktis yang dilakukan secara berulang untuk mencapai hasil yang optimal.

Pemikiran untuk mengimplementasikan pendekatan design thinking dalam pemecahan masalah kreatif sebenarnya sudah menjadi perbincangan para ahli sejak tahun 1960-an.
Berbagai pemikiran dari para ahli berkontribusi sehingga lahirnya konsep design thinking. Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh John E. Arnold dalam bukunya yang berjudul “Creative Engineering” pada tahun 1959, menandai awal mula penggunaan istilah design thinking sebagai pendekatan sistematis dalam inovasi dan pemecahan masalah.
Karakteristik Design Thinking
Dalam praktiknya, design thinking meliputi beberapa elemen kunci yang bertujuan membuat pendekatan ini jauh lebih efektif dalam menciptakan solusi inovatif, terutama dalam menghadapi masalah yang kompleks. Berikut beberapa di antaranya:
1. Berpusat pada solusi manusia (Human-Centered Design)
Fokus utama dalam metode design thinking adalah kepentingan manusia sebagai pengguna. Metode ini bertujuan untuk mengidentifikasi masalah yang dihadapi oleh pengguna dan menawarkan solusi yang bermanfaat serta efektif bagi mereka.
Design thinking menitikberatkan pada penciptaan solusi yang spesifik untuk menjawab kebutuhan tersebut. Pendekatan ini mendorong seseorang untuk menghasilkan ide-ide konstruktif yang mampu mengatasi masalah secara inovatif dan relevan.
2. Iteratif dan Eksperimental
Design thinking menggunakan pendekatan iteratif yang melibatkan pembuatan prototipe, pengujian, dan perbaikan secara berulang untuk mencapai solusi yang optimal. Praktik design thinking mengamini kegagalan sebagai pintu menuju kesuksesan. Sejatinya, kegagalan yang dialami seseorang dalam tahap awal dianggap sebagai bagian penting dari proses pembelajaran.
3. Kreatif
Ada pendapat yang mengatakan bahwa kreativitas adalah kemampuan menciptakan sesuatu yang baru. Sementara itu, ada juga yang berpendapat bahwa kreativitas muncul ketika seseorang bisa menghubungkan hal-hal yang sebelumnya tidak berkaitan.
Inti dari kedua pandangan tersebut sama, yaitu kreativitas selalu menuntut kebaruan. Karakteristik ini sangat erat dengan metode design thinking. Tujuan utamanya adalah memecahkan masalah dan memberikan solusi. Namun, solusi yang dihasilkan harus menghadirkan konsep yang segar dan inovatif untuk menarik perhatian konsumen.
Tahapan Design Thinking
Hasso Plattner Institute of Design di Universitas Stanford, atau yang lebih dikenal sebagai d.school, terkenal dengan pendekatan inovatifnya dalam design thinking. Proses desain di d.school mencakup lima tahap: Empathize, Define, Ideate, Prototype, dan Test. Namun, tahapan-tahapan ini tidak selalu harus dijalankan secara berurutan. Beberapa profesional marketing sering melakukannya secara bersamaan, dengan urutan yang fleksibel, dan mengulanginya sesuai kebutuhan.

1. Emphatize
Tahapan pertama dari design thinking yakni menekankan pentingnya memahami perspektif dan kebutuhan pengguna secara mendalam. Dengan pendekatan empati, solusi yang dihasilkan akan jauh lebih relevan dan tepat sasaran karena yang melatarbelakangi bukan hanya asumsi atau dugaan semata melainkan pemahaman mendalam mengenai pengguna secara aktif.
Biasanya dalam tahap ini, Empathy Map sering dimanfaatkan oleh pengguna untuk memahami konsumen dengan lebih baik melalui visualisasi pikiran, emosi, perilaku, dan kebutuhan mereka.
Tools ini membantu tim mendapatkan wawasan lebih dalam tentang pengalaman pengguna dengan memecah cara mereka berinteraksi dengan produk atau layanan. Adapun Empathy Map terbagi menjadi 4 pola, yaitu:
Says (Apa yang dikatakan)
Dalam pendekatan wawancara maupun feedback, biasanya apa yang dikatakan oleh konsumen terjadi secara organik, baik melalui kutipan langsung maupun pernyataan mereka.
Thinks (Apa yang dipikirkan)
Saat konsumen menggunakan produk atau layanan yang ditawarkan, biasanya mereka memiliki pikiran maupun kekhawatiran yang tidak selalu diungkapkan secara langsung.
Does (Apa yang dilakukan)
Tindakan yang dilakukan oleh konsumen meliputi perilaku yang dapat dilihat selama mereka berinteraksi dengan produk atau layanan.
Feels (Apa yang dirasakan)
Emosi yang dirasakan oleh konsumen mencakup keadaan emosional mereka, seperti frustrasi, kegembiraan, atau kecemasan akan produk/layanan yang digunakan.
2. Define
Langkah kedua dalam design thinking adalah mendefinisikan ulang masalah (define). Tujuan dari tahap ini adalah untuk merumuskan kembali masalah berdasarkan data atau umpan balik yang diperoleh dari tahap sebelumnya.
Pada tahap ini, pengguna mengumpulkan informasi yang telah dibuat dan dikumpulkan selama tahap Empathize. Selanjutnya dilakukan analisis serta menggabungkan data tersebut untuk menentukan inti permasalahan yang telah diidentifikasi.
Proses ini bertujuan untuk merumuskan pernyataan masalah yang berpusat pada manusia guna memastikan bahwa masalah tersebut benar-benar mewakili kebutuhan dan pengalaman pengguna yang sebenarnya. Sejumlah tools/pendekatan yang digunakan dalam tahap Define mampu membuat cara ini bekerja optimal, berikut beberapa di antaranya:
Point of View (POV)
Merumuskan pernyataan masalah yang menggambarkan tantangan yang dihadapi pengguna berdasarkan data yang dikumpulkan.
Affinity Diagram
Mengelompokkan hasil wawancara atau observasi menjadi tema atau pola untuk membantu mengidentifikasi masalah inti.
User Stories
Menggambarkan kebutuhan pengguna dalam kalimat singkat yang mencakup apa yang diinginkan pengguna dan mengapa.
3. Ideate
Pada tahap ini, pengguna diminta untuk mengumpulkan ide-ide, kemudian menentukan dan mencari solusi untuk masalah yang dihadapi. Proses brainstorming menjadi kunci untuk menghasilkan ide-ide kreatif dan inovatif sebagai jawaban atas permasalahan tersebut.
Mengumpulkan ide-ide kreatif bukanlah hal yang sederhana. Beberapa ide mungkin terlihat menarik, sementara yang lain bisa saja tidak terpakai. Karena itu, di tahap ini pola berpikir (out-of-the-box) sangat diperlukan guna mengoptimalkan tahapan ini. Beberapa pendekatan yang bisa digunakan dalam tahapan ini adalah:
Brainstorming
Brainstorming adalah sesi kreatif di mana peserta bebas mengemukakan berbagai ide tanpa pembatasan.
Mind Mapping
Visualisasi dari berbagai ide yang dihubungkan satu sama lain untuk menemukan hubungan atau pola baru.
Scamper
Metode untuk memodifikasi ide yang ada dengan cara memodifikasi elemen-elemen tertentu (Substitute, Combine, Adapt, Modify, Put to another use, Eliminate, Reverse).
4. Prototype
Langkah berikutnya adalah menentukan solusi dan membuatnya dalam bentuk prototype. Prototype adalah produk yang belum final, berupa simulasi atau sampel yang dapat digunakan untuk mengevaluasi ide dan desain yang telah dibuat.
Contohnya, IDEO bekerja dengan perusahaan media besar yang membuat prototipe perubahan struktur organisasi melalui tim eksperimental selama 6 minggu, dengan tujuan memperoleh wawasan untuk struktur yang lebih baik.
Di akhir tahap ini, pengguna mendapatkan pemahaman lebih jelas tentang keterbatasan produk dan perilaku konsumen. Berikut beberapa tools yang biasa digunakan dalam tahap prototype:
Sketching
Sketching merupakan proses membuat sketsa sederhana untuk memvisualisasikan ide.
Wireframing
Gambaran kasar dari struktur produk digital, seperti aplikasi atau situs web, tanpa detail desain yang rumit.
Paper Prototyping
Prototipe fisik yang terbuat dari kertas untuk menguji ide dengan cepat dan murah.
5. Test
Setelah prototype selesai dibuat, pada tahap terakhir ini pengguna perlu melakukan pengujian langsung terhadap prototype tersebut. Langkah ini mampu mengungkap wawasan baru yang selanjutnya dapat dilakukan penyempurnaan prototype. Tahapan ini sekaligus merupakan serangkaian pendekatan yang mampu mendukung keseluruhan proyek desain.
Tujuan utamanya adalah mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang konsumen serta mengetahui solusi atau produk yang paling cocok bagi mereka. Dalam tahap terakhir ini, kamu bisa memaksimalkan beberapa pendekatan di bawah ini:
A/B Testing
Menguji dua versi prototipe dengan pengguna untuk melihat mana yang lebih efektif.
Surveys & Feedback Forms
Merupakan tahap mengumpulkan umpan balik dari pengguna setelah dilakukannya pengujian prototype.
Analytics Tools
Menggunakan alat analitik (misalnya Google Analytics) untuk melacak data kinerja produk dan perilaku pengguna.
Bagaimana Cara Design Thinking Bekerja?
Dengan memanfaatkan metode design thinking, pengguna dapat menghubungkan apa yang dibutuhkan konsumen dengan solusi yang bisa diwujudkan secara teknologi dan tetap masuk akal dari sisi ekonomi. Pendekatan ini juga memungkinkan seorang yang bukan ahli dalam bidangnya untuk dapat menggunakan cara berpikir dan teknik kreatif ini dalam menyelesaikan berbagai masalah.
Desirability:
Apa yang relevan dan berarti bagi orang?
Feasibility:
Apa yang secara teknis bisa diwujudkan dalam waktu dekat?
Viability:
Apa yang berpotensi menjadi bagian dari model bisnis yang bertahan lama?
Proses design thinking dimulai dengan bertindak dan memahami pertanyaan-pertanyaan kunci. Pendekatan ini berfokus pada perubahan pola pikir yang sederhana dan melihat masalah dari perspektif yang berbeda.
Apa Tujuan Design Thinking?
Design thinking dapat membantu menciptakan solusi pembelajaran yang lebih efektif, sesuai dengan kebutuhan bisnis dan tujuan pengembangan kapasitas perusahaan. Dengan pendekatan ini, perusahaan dapat memastikan bahwa solusi yang dihasilkan memenuhi kedua kebutuhan tersebut dengan baik.
Selain itu, design thinking juga berfungsi sebagai penghubung antara kebutuhan bisnis dan pengembangan kapasitas, memungkinkan keduanya terintegrasi dengan lancar dan memastikan bahwa solusi yang dikembangkan mendukung tujuan jangka panjang perusahaan secara efektif.
Contoh Penerapan Design Thinking
Perusahaan di berbagai sektor industri menggunakan metode design thinking untuk meningkatkan bisnis mereka dan mencapai hasil yang lebih baik. Mengamati dan mempelajari dari contoh kasus ini dapat membantumu memulai penerapan proses design thinking di perusahaan/bisnis sendiri. Berikut beberapa contoh perusahaan yang sukses menerapkan metode design thinking:
1. Airbnb
Airbnb menggunakan design thinking untuk membuat platform penyewaan rumah yang fokus pada kebutuhan pemilik dan tamu. Awalnya mereka hanya menghasilkan $200 per minggu, kemudian para petinggi Airbnb mengatasi masalah foto berkualitas rendah dengan berinvestasi untuk memaksimalkan kamera berkualitas tinggi. Hasilnya, platform Airbnb menjadi lebih ramah pengguna dan memudahkan pemesanan akomodasi, sehingga pendapatan Airbnb meningkat dua kali lipat dalam waktu seminggu.
2. Netflix
Netflix telah sukses menggunakan design thinking untuk menjadi raksasa industri. Mereka menggantikan sistem penyewaan DVD Blockbuster dengan pengiriman langsung ke rumah dan kemudian beralih ke streaming-on-demand saat DVD mulai usang. Netflix juga menambahkan konten original dan cuplikan pendek untuk meningkatkan pengalaman pengguna, semuanya berdasarkan respons terhadap kebutuhan pelanggan.
3. UberEats
UberEats sukses berkat kemampuannya untuk beradaptasi dengan memahami kebutuhan pelanggannya. Salah satu contohnya adalah program Walkabout, di mana tim desainer mempelajari berbagai aspek seperti budaya makanan dan infrastruktur di kota-kota tempat mereka beroperasi. Lewat metode ini, mereka menciptakan aplikasi pengemudi yang membantu mengatasi masalah parkir dengan memberikan petunjuk pengantaran yang lebih jelas. Hal ini sangat membantu UberEats membuat perbaikan layanan yang lebih tepat sasaran.
Manfaat Design Thinking
Design thinking menawarkan manfaat besar bagi bisnis lewat cara berpikir kreatif dan fokus pada pengguna. Pendekatan ini mengoptimalkan teknik inovatif untuk mengatasi masalah dan menciptakan ide segar. Design thinking juga mampu meningkatkan nilai bagi pelanggan, menjaga relevansi di pasar yang berubah, dan mendorong inovasi.
Hal tersebut jelas jauh lebih efektif dalam mencapai tujuan penjualan dibandingkan metode konvensional. Manfaat lain dari design thinking yakni mampu menekan biaya dengan menghindari perubahan yang tidak diinginkan. Dengan menggabungkan empati dan analisis ilmiah, design thinking membantu pengguna meluncurkan produk lebih cepat, meningkatkan pengembalian investasi, serta memperbaiki retensi dan loyalitas pelanggan.
Melihat dinamisnya dunia bisnis saat ini, perubahan dan inovasi berkembang pesat mengikuti meningkatnya ekspektasi konsumen. Inovasi menjadi salah satu kunci untuk mempertahankan daya saing perusahaan. Tujuannya tidak hanya bertumbuh, melainkan juga memastikan keberlanjutan di masa depan. Inovasi muncul dari pengembangan ide-ide baru untuk memperbaiki masalah atau menciptakan solusi revolusioner guna memenuhi kebutuhan konsumen.
Dengan mengikuti kelas Certified Design Thinking Professional (CDTP) bersama Markplus Institute, kamu bisa mulai menciptakan inovasi yang relevan untuk bisnismu! Dalam kursus ini, kamu akan mempelajari cara memahami kebutuhan pasar, mengembangkan solusi kreatif, dan menyempurnakan ide menjadi inovasi yang tepat sasaran. Dengan tiga modul yang dirancang khusus, kamu akan mendapatkan wawasan dan keterampilan praktis yang membantu bisnismu berkembang di tengah persaingan. Daftar sekarang dan ambil langkah pertama menuju inovasi yang berkelanjutan!



